Follow Us @soratemplates

Friday, July 3, 2020

The Road - Cormac McCarthy

July 03, 2020 0 Comments
The Road, Cormac McCarthy. 2006, New York: Knopf.

We wouldnt ever eat anybody, would we?
No. Of course not.
Even if we were starving?
We're starving now. (The Road, 128)

Fiksi bertema akhir dunia atau biasa dikenal dengan fiksi post-apocalyptic memang menarik untuk dibaca. Fiksi jenis ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya setelah bencana besar menghancurkan dunia yang dikenal sekarang bersama seluruh sistemnya, tanpa pemerintah, hukum, dan peradaban tersisa. Kisah bencananya kadang tidak begitu menarik perhatian sebab justru manusia yang tersisa atau berhasil selamat dari bencana itu dan bagaimana mereka bertahan hidup lebih membuat pembaca penasaran.

Novel bertema post-apocalyptic ini bukanlah fenomena baru. Mary Shelley dengan novelnya The Last Man yang terbit pada 1826 termasuk salah satu novel post-apocalyptic lama yang cukup terkenal. Novel tersebut menceritakan tentang wabah yang membabat habis manusia dan di tengah chaos yang terjadi antara manusia-manusia yang berhasil selamat, muncul seorang tokoh utama dengan kualitas-kualitas pribadi berbeda dengan manusia lain dan menjadi penyelamat di tengah kekalutan-kekalutan chaos tersebut. Banyak novel dengan tema serupa yang terbit kemudian seperti I Am Legend karya Richard Matheson yang berkisah tentang pertarungan manusia dengan vampir setelah wabah besar yang memporak-porandakan sistem kehidupan manusia, kemudian novel-novel zombie atau fiksi sains seperti serial The Hunger Games, Maze Runner, Divergent dan lain sebagainya yang muncul beberapa waktu terakhir juga berkaitan dengan tema akhir dunia.

Berbicara tentang novel post-apocalyptic, kita tidak bisa melewatkan salah satu novel besutan Cormac McCarthy berjudul The Road. Novel ini terbit pada 2006 dan memperoleh penghargaan Pulitzer Prize pada 2007. Novel ini semakin ramai dibicarakan dan dibahas sampai akhirnya McCarthy berkenan tampil pertama kali di TV dalam wawancara bersama Oprah Winfrey dan secara khusus membahas novel The Road serta penghargaan Pulitzer yang diterimanya.

Novel-novel post-apocalyptic biasanya bercerita tentang bagaimana terjadinya bencana, bagaimana tokoh utama yang pada akhirnya menyelamatkan para survivor yang tersisa pasca bencana, atau menceritakan perkelahian antar tokoh atau kelompok demi bertahan hidup. Tetapi novel The Road ini berbeda. Novel ini berbicara tentang perjalanan yang sangat emosional antara ayah dan anak dalam melewati dunia pasca bencana demi mencari kehidupan yang lebih baik. Dunia yang digambarkan dalam novel The Road adalah lanskap dunia yang hancur, abu-abu dan gelap, penuh debu, tanah yang terbakar, pepohonan mati, ketiadaan tanda-tanda kehidupan, mobil-rumah-supermarket yang semua terbengkalai dan ditinggalkan.

Dalam narasinya, McCarthy menyebutkan para survivor dengan jumlah yang tidak banyak berkelana di dunia post-apocalyptic ini dengan mengenakan baju-baju ‘biohazard’ dan memakai masker serta kacamata seperti pilot. Meskipun tidak dijelaskan bencana apa yang menyebabkan hancurnya dunia tersebut, apakah holokaus nuklir atau jatuhnya meteor dari luar angkasa, tetapi narasi-narasi McCarthy di novel menunjukkan kondisi dunia yang semakin memburuk setelah bencana yang entah apa itu. Malam digambarkan lebih kelam dari biasanya, siang semakin kelabu, dan suhu udara semakin dingin sampai terasa beku.

Di halaman-halaman awal novelnya, dalam mimpi si tokoh ayah, McCarthy seperti menunjukkan bahwa kehancuran dunia ini sebenarnya didukung dan dimotori oleh manusia sendiri. Bagaimana peradaban dan etika hancur jauh sebelum struktur fisik dunia ini hancur. Jiwa-jiwa korup, yang berlomba-lomba meraih kuasa dan menempatkan kepentingannya di atas kebutuhan-kebutuhan manusia lain inilah yang mula-mula membawa kehancuran pada kemanusiaan

Detail lanskap dunia yang hancur secara fisik dan kemanusiaan ini digambarkan dengan begitu nyata untuk memberikan konteks pada dua tokoh utama yang menjadi sentral cerita; yaitu seorang ayah dan anaknya yang kurang lebih berusia 10 tahun. Tokoh anak ini lahir tak lama setelah bencana dan dibesarkan sendirian oleh ayahnya sebab sang ibu memilih untuk mati bunuh diri daripada hidup di dunia yang tidak lagi menjanjikan apa-apa. Setelah bencana besar dan kematian bagi sebagian besar orang, ayah dan anak ini melakukan perjalanan ke arah Selatan dengan harapan menemukan kehidupan yang lebih baik, yaitu tempat yang jauh lebih hangat dan tempat yang mungkin menyisakan orang baik sebagai teman bagi mereka. Sepanjang perjalanan itu, mereka harus bertahan dari udara dingin yang mencekam dan berhati-hati dari ancaman bertemu para survivor lain yang menjadi predator. Sebab, dengan hancurnya dunia yang tak lagi memungkinkan berjalannya proses produksi, proses konsumsi bagi sebagian orang yang masih bertahan hidup setelah bencana telah menciptakan banyak kanibal yang memangsa sesamanya untuk bertahan hidup.

Gambaran kanibalisme ini ditampilkan dengan begitu mengerikan dalam novel McCarthy. Tokoh ayah dan anak yang selalu kelaparan, kedinginan, dan letih ini terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menuju Selatan, dan di tengah perjalanannya, mereka tak sengaja menemukan sekumpulan tahanan di ruang bawah tanah sebuah rumah di pinggiran kota yang menjadi sumber makanan bagi orang yang menahan mereka. Kemudian mereka juga menemukan jasad bayi yang siap dimakan oleh orang tuanya yang sudah putus asa dan menyaksikan bagaimana manusia ditangkap oleh sekelompok manusia lain untuk dimakan. Di sini, orang-orang jahat digambarkan sebagai orang yang hanya peduli untuk bertahan hidup dan melakukan apa saja demi itu termasuk memakan manusia lain.

Dan di tengah hancurnya nilai-nilai kemanusiaan ini, tokoh ayah berusaha untuk mewariskan nilai kemanusiaan itu pada sang anak yang tak pernah tahu seperti apa dunia sebelum kehancuran itu terjadi. Ia mengajari anaknya untuk menjadi orang baik, meskipun lapar tetapi tidak memakan manusia lain atau merampas hak milik orang lain. Sehingga ketika mereka menemukan sebuah bunker perlindungan berisi makanan, si anak berdoa sebelum menyantap makanannya seperti ini: "Dear people, thank you for all this food and stuff. We know that you saved it for yourself and if you were here we wouldnt eat it no matter how hungry we were and we're sorry that you didnt get to eat it and we hope that you're safe in heaven with God

Hal lain yang membedakan The Road dengan novel-novel post-apocalyptic lainnya adalah penulisannya yang sengaja menghilangkan tanda baca seperti apostrop dan tanda kutip penanda dialog. Penghilangan tanda baca ini seolah ingin menunjukkan bahwa bersamaan dengan hancurnya dunia, hancur pula sistem penanda kata-kata. Dialog-dialognya pun sangat singkat. Percakapan ayah dan anak sangat sedikit dan kebanyakan diisi oleh pertanyaan “ya atau tidak”. Hal terakhir yang membuat novel ini menarik adalah bahwa tokoh utama si ayah dan anak ini tidak memiliki nama, hanya disebut sebagai ‘father’ dan ‘son’ seolah ingin menjelmakan kedua tokoh ini pada semua orang. Bahwa tokoh ayah dan anak ini bisa siapa saja, bisa saya, bisa juga anda. Dan terlepas dari apapun yang terjadi, sehancur apapun dunia dengan segala ketiadaan sistem masyarakat, sumber makanan, bahkan kebaikan, perjuangan terberat yang harus dilakukan adalah tidak semata bertahan hidup tetapi juga bertahan untuk tetap menjadi manusia yang baik.

The Road muncul sebagai sebuah tawaran tema post-apocalyptic yang berbeda, yang tidak melulu berbicara tentang bencana dan perkelahian, tetapi tentang hubungan emosional keluarga dan upaya menjaga serta mempertahankan humanisme. Dan bagi siapa saja yang tertarik dengan tema-tema akhir dunia, novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Sunday, May 10, 2020

Ziarah

May 10, 2020 0 Comments

Dulu aku sering bertanya-tanya, apakah kenangan bisa dihela dan dilupakan bersama hembusan nafas. Atau meluruh bersama hujan. Atau lenyap begitu seja seiring terbentuknya memori-memori baru. Aku sendiri sudah mencoba melupakan puluhan kali sampai kadang-kadang pikiran isengku muncul untuk membuat sebuah buku berjudul ‘cara-cara melupakan’. Tapi bagaimana bisa, sedang upayaku untuk melupakan saja tak pernah ada satupun yang berhasil. Dan semakin ke sini, aku tahu bahwa semakin berusaha melupakan, justru malah semakin tidak bisa. Sampai akhirnya aku sadar bahwa satu-satunya cara melupakan tanpa berujung kegagalan hanyalah dengan mencopot kepala dari badan.

Di dinding-dinding beton rumah sakit itu, aku masih melihat wajah kakekku. Di pelataran yang jadi tempat parkir mobil dan motor, aku juga melihat kakekku yang bertelanjang kaki, dengan lumpur yang membenamkan seluruh pergelangan kakinya nyaris mencapai lutut. Rumah sakit megah ini, berdiri di persawahan milik kakekku yang terpaksa harus dilepasnya karena tak ada lagi keluarga yang membelanya.

Kau sudah tua, sudah waktunya berhenti bertani. Anak cucumu tak ada yang mau bertani. Begitu kata orang-orang yang akhirnya meninggalkan beberapa ratus ribu rupiah untuk sekian petak sawah yang dirawat kakekku. Beberapa petak tanah yang tak dijualnya, ia hadiahkan semua pada adik-adik tirinya yang jumlahnya lebih dari jari-jari di satu tangan. Setelah kehilangan seluruh tanah persawahan yang pernah begitu dicintainya, usia senjanya ia habiskan mengurus anak-anak orang yang dititipkan mengaji di sebuah langar kecil di samping rumahnya.

Rumah yang dulu ditinggali kakekku adalah sebuah rumah memanjang dengan batu-bata merah dan tegel semen kelabu. Bagian paling depan adalah rumah kayu yang berisi kamar kakekku, rak-rak berisi kitab-kitab tebal berhuruf arab dan pegon, dan sebuah televisi tabung hitam putih. Kadang-kadang aku suka tidur di sana, mendengarkan dongeng-dongeng, cerita nabi, dan cerita wayang yang sebetulnya tak pernah begitu kupahami. Tapi aku senang mendengarnya.

Kala adzan maghrib berkumandang, aku akan beranjak menuju langgar sambal mengekor kakek. Ikut sholat di pangimaman sambal mencuri kesempatan untuk naik ke punggungnya saat ia sujud. Mengaji bersamanya juga menyenangkan. Meski bodoh mengeja alif ba ta, kakek tak pernah memarahiku. Berbeda dengan ibu. Bersama ibu, membaca basmalah saja sudah begitu menakutkan. Makhraj yang salah bisa berujung cubitan dan bentakan yang mengerikan.

Kini, rumah memanjang milik kakekku sudah binasa. Yang ada hanya sebuah rumah kecil berarsitektur modern yang ditinggali mendiang nenekku selepas kakekku tiada. Langgar kayu yang dulu juga kini sudah dipugar lebih modern. Empang di samping langgar yang dulu dihuni ikan-ikan gemuk segala rupa juga sudah tidak ada; hanya terlihat sisa ceruk lebar yang kini mengering. Segala kenangan-kenangan masa kecilku pun seperti ikut luntur Bersama bangunan-bangunan yang kini punah itu.

Kembali ke tanah itu rasanya serupa menziarahi kenangan-kenangan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan. Ada begitu banyak kenangan buruk yang membersamai masa-masa indah itu dan begitu ingin kulupakan. Tetapi semua kenangan baik dan buruk itu serupa wajah di kedua sisi mata koin yang sama; keberadaannya bebarengan menjadi satu dan kita tidak bisa memilih salah satunya.

Jadi, satu-satunya cara adalah berdamai. Menyaksikan tanah-tanah hijau yang begitu berarti bagi kakekku dulu itu menjadi bangunan-bangunan berbeton. Mata air-mata air alami tempatku dulu bermain dan mandi kini kering. Pohon-pohon murbei dan cimplukan yang buahnya segar dan sering kumakan saat main masak-masakan juga kini tiada. Tanah itu telah berubah Kek, begitu asing, begitu asing…

Purwokerto, 10 Mei 2020

Thursday, May 7, 2020

Meski Ambyar Hatiku, Selamat Berpulang Didi Kempot!

May 07, 2020 0 Comments
Foto dari NU Online yang saya dapat dari kiriman pesan WA seorang kawan
Kemarin, Didi Kempot berpulang. Selalu ada rasa pedih dan kehilangan ketika mendengar orang yang namanya akrab dengan kehidupan kita sehari-hari tiada. Berita itu juga datang begitu tiba-tiba. Memang maut selalu demikian, tidak pernah memberi aba-aba. Tapi, beberapa hari sebelumnya, kita masih mendengar konser amalnya tembus angka sekian milyar dan didedikasikan untuk mereka yang terdampak COVID19. Wajar belaka jika sekian detik pasca mendengar kabar duka itu kita tertegun tak percaya. 

Tentu warisan Didi Kempot bukan konser amal saja. Salah satu yang lain adalah jasa besarnya mempopulerkan istilah "ambyar" ke dalam kosa-kata keseharian berbahasa Indonesia kita. Bahkan ulasan-ulasan dari mulai yang filosofis sampai biasa-biasa saja muncul merespon kata "ambyar" tersebut.

Saya sendiri bukan fans berat Didi Kempot atau lagu-lagunya. Justru, saya barangkali adalah sedikit orang yang nyaris tidak pernah ikut euforia dengan populernya lagu-lagu "ambyar" tersebut. Tetapi, meskipun bukan termasuk fans beratnya, rasa duka akibat kehilangan yang kurasakan nampaknya bukanlah rasa duka ikut-ikutan semata.

Ketika kuingat-ingat kembali, aku memang tidak pernah secara sengaja memutar lagu-lagu Didi Kempot. Tak ada satupun lagunya masuk ke dalam daftar favorit di playlist spotify milikku. Tapi, bukan berarti lagu-lagu itu tidak akrab di telingaku. Sesekali, tanpa sadar, mulutku ikut mendengungkan nada-nada lagu yang tidak pernah betul-betul kusukai tersebut.


Dek opo salah awakku iki

Kowe nganti tego mblenjani janji


Aku nelongso mergo ke bacut tresno
Ora ngiro saikine cidro
Wes samestine ati iki nelongso

Wong seng tak tresnani mblenjani janji

Lagu-lagunya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharianku karena terlalu seringnya lagu-lagu itu mengalun dan mengakrabi telingaku tanpa pernah kuminta. Bahkan lagu lawasnya, Stasiun Balapan, nyaris kuhafal di luar kepala keseluruhan liriknya. Dalam perjalanan-perjalananku naik kereta melewati Stasiun Purwokerto-Stasiun Gubeng atau Stasiun Gambir-Stasiun Gubeng yang intensitasnya tidak pernah berkurang beberapa tahun terakhir ini, aku suka diam-diam menyanyikannya, khususnya ketika kereta yang kunaiki berhenti sejenak di Stasiun Solo Balapan. Dan kadang-kadang, tanpa kumau, sambil menggumamkan lagunya tanpa sadar, aku seperti ikut menjiwai rasa sedih dan melankolisnya... 

Ning Stasiun Balapan
Rasane Koyo Wong Kelangan
Kowe Ninggal Aku
Ra Kroso Netes Eluh Ning Pipiku
Da... Dada Sayang
Da... Slamat Jalan

Janji Lungo Mung Sedelo
Jare Sewulan Ra Ono
Pamitmu Naliko Semono
Ning Stasiun Balapan Solo

Betul. Didi Kempot dan lagu-lagunya mau tidak mau telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hariku, barangkali kita. Ia menjadi rutinitas, menjadi kebiasaan. Sehingga tanpa sadar, kita semua akrab dengan lirik-liriknya yang membuat hati "ambyar" itu. Selaiknya kebiasaan atau rutinitas, kita nyaris mustahil hidup tanpanya. Iya kan? How do we fix habit? We can't. Even if we can, it will be very hard and painful.

Sebagai seseorang yang tidak pernah secara sukarela mengakrabi lagu-lagunya, dua hari ini, aku memutar semua lagu-lagu Didi Kempot di spotify, setengah berharap bahwa aku mengakrabi lagu-lagu ini sejak dulu, lalu ikut berdiri di tengah-tengah penonton konsernya sambil meneriakkan lirik-lirik lagu patah hati ini sampai serak. Tapi, kesadaran memang kadang suka datang terlambat bukan? Meski ambyar hatiku, dengan duka dan kehilangan, aku ingin berkata: selamat berpulang Didi Kempot...

Purwokerto, 7 Mei 2020 
   


Tuesday, May 5, 2020

Mendengarkan Versi Lain "The Sound Of Silence"

May 05, 2020 0 Comments
Ilustrasi diambil dari https://www.tvtime.com/en/show/311903
Serial The Blacklist barangkali adalah sedikit serial televisi yang betul-betul saya ikuti dan membuat saya begitu tenggelam secara emosional dalam ceritanya. Tayang pertama pada 2013, tahun ini adalah tahun ke-tujuh serial ini membersamai para penonton setianya. Tentu banyak yang sepakat bahwa Season 1 adalah yang terbaik di antara semuanya, tetapi fakta bahwa di Season 7 yang masih berlangsung ini ternyata masih banyak yang menonton dan menanti kejutan-kejutan berikut (seperti, siapa sih sebetulnya Raymond Reddington kalau ternyata dia yang sekarang ini adalah imposter?) membuktikan bahwa masih banyak orang yang enggan melewatkan cerita Red. Lagian, apa sih yang lebih memukau dari seorang penjahat kriminal paling dicari tiba-tiba masuk ke lobby kantor FBI untuk menyerahkan diri? Bagi mereka yang bukan penggemar serial ini pasti akan menjawab: banyak! Tentu saja. 

Lagi pula banyak hal sudah terjadi sejak peristiwa Red menyerahkan diri; plot-twist yang menyebalkan, kemarahan, pengkhianatan, love-hate feeling antara Liz dengan Raymond Reddington yang seperti ayahnya sendiri, kemunculan Katarina Rostova ibu kandung Liz yang awalnya dikira sudah mati, kematian orang-orang di dekat Liz dan Red seperti Mr. Kaplan dan Tom. Iya Tom Keen!

Satu dari banyak hal yang membekas tentang serial ini adalah lagu-lagu penyertanya yang bagus-bagus. Beberapa lagu Elton John, Bob Dylan, Nancy Sinatra, AC/DC, Fink, dan beberapa penyanyi favorit saya menyertai episode-episode The Blacklist dari Season 1. Ada satu lagu yang ketika saya dengarkan lagi di luar film ini membawa campuran emosi marah, sedih, dan putus asa yang menyesakkan. Lagu itu adalah The Sound Of Silence.

The Sound Of Silence yang menjadi lagu pengiring salah satu episode di serial The Blacklist ini (di salah satu Season 5 kalau tidak salah) bukanlah versi asli yang dinyanyikan oleh Simon & Garfunkel; yang tentu saja sendu, melankolis, lembut. Tetapi versi cover yang dinyanyikan oleh salah satu band rock alternative, Disturbed. Lagu ini muncul ketika Liz dan suaminya, Tom Keen terkapar sekarat setelah segala adegan kejar-kejaran-kucing-kucingan yang mendebarkan. Keduanya dilarikan ke rumah sakit di mobil yang sama. Di luar, suara sirine meraung-raung. Sementara Red, dengan ekspresi khawatir di wajahnya, duduk di samping Liz dengan tangan terulur merengkuh perempuan yang begitu disayanginya seperti anaknya sendiri. Tapi kita semua tahu, meski enggan mengakui, bahwa kondisi Tom Keen yang luka parah hampir mati itu salah satunya disebabkan oleh Red juga. Satu kalimat pendek "How long?" dari Red pada Dembe yang menyupir di depan mengimplikasikan ketidaksabaran Red untuk segera tiba di Rumah Sakit. Sementara percakapan pendek dengan nafas terengah-engah antara Liz dan Tom Keen seperti sebuah seremoni ucapan selamat tinggal yang menyesakkan. Lalu, lagu The Sound Of Silence yang dinyanyikan Disturbed menyalak keras, membawa rasa marah dan putus asa yang tidak terbayangkan.   

Sejak saat itu, persepsi saya pada lagu The Sound Of Silence berubah. Setiap lagu itu mengalun, mau tak mau saya akan teringat malam jahanam itu: ketika Liz kehilangan Tom dan seperti ikut merasakan perih yang menusuk ulu hati.

Purwokerto, 6 Mei 2020

Monday, May 4, 2020

Budaya Populer*

May 04, 2020 0 Comments
Ilustrasi diambil dari https://www.beutlerink.com/blog/2015-mashup-illustration/

Adakah teman-teman yang suka mengikuti serial Marvel atau Star Wars, membaca buku-buku Tereliye, menikmati kopi kekinian seperti Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Dalgona coffee? Apakah teman-teman juga ada yang aktif di Instagram atau media sosial lain seperti facebook, kemudian suka bertukar meme, suka musik dangdut, pernah tergila-gila dengan Noah atau Dewa 19? Apa film dan music favorit teman-teman? Apa kedai kopi/café yang paling sering teman-teman kunjungi?
Lalu, ketika mendengar kata budaya popular, apa yang ada dalam pikiran teman-teman?
Selama ini nampaknya kita tanpa sadar mengamini bahwa yang disebut budaya adalah seperti budaya daerah: tari-tarian, upacara adat, baju daerah, bahasa daerah atau seni-sastra adiluhung seperti Shakespeare, Monalisa, musik klasik. Kemudian, hal-hal yang saya sebutkan di bagian awal yang kerap dikenal sebagai produk budaya populer apakah bukan kategori budaya?
Padahal kita tahu, ada begitu banyak perubahan yang terjadi karena budaya populer. Misalnya saja industri mainan berubah karena Star Wars atau Toy Story. Cara pandang kita tentang tubuh perempuan ideal berubah karena boneka Barbie. Cara kita mengkonsumsi kopi berubah karena Dalgona Coffee. Cara pandang kita tentang kecantikan berubah karena iklan kosmetik atau menonton beauty vlogger.
Masihkan kita berkata kalau budaya populer tidak penting? Lalu, apa sih budaya itu?
Jika merujuk pada pengertian budaya yang diajukan oleh para pemikir kajian budaya seperti Raymond Williams, maka budaya bisa diartikan sebagai sebuah cara hidup atau praktek hidup sehari-hari. Sehingga perayaan Idul Fitri, liburan sekolah, sinetron, musik dangdut, komik, makan rame-rame menggunakan tangan, jajan kopi kekinian, novel Twillight yang semuanya terlihat sepele, biasa, dan tidak berarti sebetulnya adalah budaya.
Istilah budaya popular sendiri muncul untuk menunjukkan beragam budaya yang bisa jadi diproduksi secara massal sehingga ada dimana-mana, menarik sehingga populer di banyak kalangan, dan disukai oleh banyak orang. Berbeda dengan misalnya Monalisa, atau konser musik klasik yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, budaya populer justru adalah budaya yang dinikmati oleh banyak orang secara massal.
Budaya populer yang begitu lekat dengan kehidupan kita sehari-hari biasanya diabaikan karena dianggap sepele dan tidak penting. Atau dianggap sebatas rutinitas belaka sehingga tidak berarti apa-apa, tidak disadari, dan tidak dipikirkan lagi. Justru di sinilah pentingnya memahami budaya populer. Fakta bahwa ia dikonsumsi oleh begitu banyak orang, menunjukkan bahwa budaya ini merepresentasikan pengalaman-pengalaman orang-orang kebanyakan sehingga semestinya tidak diabaikan.  
Dari beberapa istilah di atas, kita bisa melihat bahwa kita hidup di tengah-tengah budaya populer dan mustahil melepaskan diri darinya. Kita ada di sana, sebagai konsumen sekaligus produsen. Turut berparisipasi dalam siklus pergerakannya, memilih untuk mendengarkan atau tidak, memilih untuk membeli atau tidak. Sehingga, apa yang selama ini dianggap sebagai budaya populer sebetulnya tak kurang “budaya” dari budaya-budaya adiluhung lainnya. Budaya populer ini justru sama pentingnya dengan budaya adiluhung. Sebab kalau mengatakan bahwa budaya populer ini bukan budaya, berarti kita mengafirmasi perbedaan kelas antara kelas elit dan kelas kebanyakan.  
Sehingga, meskipun budaya populer ini dianggap tidak penting, sebetulnya budaya populer ini penting dan tidak bisa diabaikan. Karena budaya populer membantu kita memahami banyak hal melalui apa yang disukai dan dianggap penting oleh banyak orang. Dalam salah satu tulisannya tentang budaya populer di Indonesia, Ariel Heryanto menunjukkan betapa pentingnya budaya populer dengan menyatakan bahwa ada sebuah lubang atau kekosongan dalam kajian-kajian tentang Indonesia karena kurangnya kajian mengenai budaya populer yang selama ini tidak dianggap, disalahpahami, atau dianggap tidak penting.

Purwokerto, 4 Mei 2020
*Tulisan ini dibawakan dalam diskusi open mic tadarus online bersama DSC (Dunia Santri Community pada 4 Mei 2020)

Friday, April 3, 2020

Life In Time of Corona

April 03, 2020 0 Comments
Akhir Februari lalu saya sudah menulis tentang COVID19 dan banyak orang mencela saya, mengatakan bahwa saya panik berlebihan. Beberapa juga denial dengan mengatakan bahwa tidak mungkin corona sampai ke Indonesia karena dan hal ini masih terus terjadi sampai akhir Maret kemarin ketika ribuan pemudik dari Jabodetabek membanjiri daerah-daerah yang masih termasuk zona hijau tanpa melakukan swa-karantina sebelum dan sesudah sampai ke daerah. Sekarang kita lihat, gelombang kepanikan menyapu bahkan kemanusiaan di desa-desa. Pasien COVID19 yang meninggal tidak diterima di pemakaman sekitar. ODP dan PDP distigma habis-habisan. Karena apa? Karena takut. Mereka takut dengan hal-hal yang tidak mereka kenal sebelumnya dan pemerintah terlalu terlambat melakukan edukasi. They should have anticipated it long ago!
Foto dari The Guardian

COVID19 yang awalnya hanya kita dengar terjadi di tempat-tempat jauh, di negara lain, tiba-tiba ada begitu dekat dengan kita. Orang yang kita kenal mulai ada yang terjangkit virusnya bahkan ada yang meninggal. Dan kita tidak pernah tahu apakah kita turut berkontribusi terhadap penyebaran itu atau tidak, sebagai carrier misalnya. Imbauan tinggal di rumah juga tidak dipikirkan bagaimana realisasi dan konsekuensinya. Semuanya gagap menanggapi pandemi ini. Dan seperti yang sudah-sudah, masyarakat hanya bisa saling bergantung satu sama lain. 

Terlepas dari apapun, upaya penggalangan donasi untuk keperluan APD tenaga kesehatan (yang entah kenapa tidak diprioritaskan sama pemerintah, oke, kalaupun bilang diprioritaskan tetapi kenyataannya tidak demikian. Banyak sekali sahabat-sahabat saya yang dokter mengeluhkan betapa langka nya APD, termasuk masker!) dan basic needs para pekerja harian yang lemah secara finansial apalagi kalau harus diam di rumah membuat saya begitu terharu, sekaligus membuat saya sadar bahwa in the end, we only got each other. Untuk pertama kalinya, saya melihat dengan begitu terang benderang sisi terbaik sekaligus tergelap manusia. Panic buying, selfishness, altruism, and even incompetent government.   

Hari ini adalah hari ketigabelas swa-karantina saya sepulang dari Depok (di Depok pun saya melakukan swa-karantina juga sebelum pulang). Dan selama ini saya masih tinggal di kamar sendiri, terpisah dari anggota keluarga yang lain. Keluar sesekali hanya ke kamar mandi ataupun dapur. Rencananya, setelah empat belas hari, saya akan keluar rumah untuk jogging sendirian, mengambil rute yang jauh dari tempat-tempat umum tentunya. Dan di tengah pembelajaran jarak jauh serta tugas-tugas yang terus menggunung, saya berdoa semoga pandemi ini segera berlalu, semoga kita semua kuat, semoga kemanusiaan kita mengalahkan keegoisan kita, dan meskipun begitu kecewa dan susah percaya lagi dengan pemerintah, saya berharap pemerintah bisa menangani pandemi ini dengan baik, jangan blunder lagi, please!

Be safe, be healthy, and just stay at home for the time being, folks!


Purwokerto, 3 April 2020 

Friday, February 28, 2020

Corona dan Curahan Hati Kepanikan Saya

February 28, 2020 0 Comments
Gambar dari Colombo Gazette

Awal-awal pemberitaan tentang merebaknya virus corona di Wuhan dan segala teori konspirasi yang melingkupinya; bahwa virus itu adalah senjata biologis yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan mengurangi populasi manusia atau teori-teori lainnya, masih membuat saya tidak peduli sampai beberapa hari terakhir ketika pemberitaan dan isu-isu aneh mulai bermunculan di media sosial. Tentu saja pemberitaan aneh-aneh itu datang dari pemerintah kita yang terhormat; ucapan ngawur orang KPAI yang bilang berenang bisa menyebabkan kehamilan lah, 'fatwa' orang kaya untuk menikahi orang miskin, tanggapan ngawur perihal banjir yang melanda ibu kota dan kota-kota lain, serta munculnya RUU Ketahanan Keluarga yang membuat naik pitam. Dan semua itu membuat saya merenung.

Berita soal virus corona tiba-tiba senyap. Tetapi dari berita-berita yang muncul begitu jarang di lini masa media sosial, kita tahu virus ini belum teratasi. Ratusan atau bahkan ribuan orang sudah menjadi korban. Beberapa negara sudah melakukan precaution dan prevention, bahkan ada yang sudah membatasi arus keluar-masuk warga negara asing ke negaranya. Arab Saudi misalnya, membatasi jemaah umroh dari sekian negara untuk tidak dulu datang ke negaranya. Tetapi lihat apa yang terjadi di Indonesia? Kita dibuai dengan narasi-narasi yang mengatakan bahwa kita tidak mungkin terinfeksi corona karena pola hidup kita yang terbiasa tidak sehat ini membuat kita nyaris imun dari virus apapun. Kemudian muncullah meme dan unggahan lucu-lucu yang mengafirmasi narasi-narasi itu. Tapi apa narasi itu betul-betul melindungi kita dari kemungkinan semakin tersebarnya virus corona? Tidak.

Saya tidak tahu kenapa persoalan corona ini seolah tidak menjadi perhatian bagi pemerintah. Apa hidup kita tidak ada artinya apa-apa bagi mereka? Apa masyarakat yang jutaan ini hanya angka statistik bagi mereka? Alih-alih melakukan tindakan precaution atau prevention, pemerintah malah menggelontorkan dana begitu besar, puluhan milyar, untuk menarik wisatawan masuk ke Indonesia. Apa logika pemerintah hanya soal investasi, ekonomi, untung, dan rugi? 

Kita sudah begitu sering dibuat marah dengan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Kita sudah begitu sering berusaha bersabar dengan komentar-komentar ngawur wakil rakyat yang seperti mengejek kecerdasan kita. Tetapi, urusan nyawa ini, kok bisa-bisanya muncul ucapan: "Banyak-banyak berdoa saja supaya tidak kena corona." No! Bukan tugas anda untuk menyuruh kita berdoa, tugas anda adalah memastikan nyawa semua warga negara selamat dari ancaman tersebarnya virus ini bukan malah mengundang wisatawan luar negeri untuk meningkatkan pendapatan negara, tugas anda adalah membuka dengan sebenar-benarnya informasi perihal penyebaran virus corona di Indonesia sehingga tidak ada kepanikan-kepanikan karena kurangnya informasi, tugas anda adalah memastikan masyarakat bisa mengakses masker dan hand sanitizer sehingga mereka tidak harus memilih beli makan atau beli masker karena harga masker yang tidak masuk akal. 

Anda mungkin bisa bilang kalau saya berlebihan, tetapi dengan segala kengawuran pemerintah dan begitu belum jelasnya tindakan pemerintah berkaitan penyebaran virus corona ini, apa kepanikan seperti ini bisa dipersalahkan? Seolah-olah kita bahkan tidak bisa merasa aman di tempat kita sendiri karena negara seperti tidak bisa memastikan bahwa kita bisa aman dari penyebaran corona ini. Dan, meski sering sekali kami kecewa dengan pemerintah, apa kami sudah tidak lagi bisa berharap bahwa dalam situasi krisis seperti ini, mereka akan berdiri di pihak kita?  


Depok, 28 Februari 2020 

Thursday, December 12, 2019

Common Sense

December 12, 2019 0 Comments
Gambar dari WHISC

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan menangis padaku karena kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya. Kami berpelukan lama sambil mendengarkan ceritanya. Apa lagi yang bisa kulakukan selain memeluknya dan berharap ia kuat? Aku tahu, hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang remeh temeh bisa berarti hidup dan mati bagi sebagian yang lain.

Hanya berjarak sekian hari kemudian, seorang kawan yang lain datang padaku dengan kisah yang sama. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa memeluknya sambil mendengarkan segala yang ingin ia tumpahkan. Aku berusaha menghiburnya dengan bercerita hal-hal lucu yang sebenarnya tidak lucu hanya untuk membuat hatiku sedikit lebih baik, karena tak mampu berbuat apapun untuk meringankan bebannya.

Meskipun aku tahu, nasihatku tidak berguna karena kurasa kawan-kawan yang datang padaku lebih butuh didengarkan timbang diberi nasihat, mulutku tetap tak mampu menahan sederet umpatan pada pria-pria yang berselingkuh itu dan meminta kawanku untuk tegas meninggalkan mereka karena apa sih yang bisa diharapkan dari pria tak setia dan mengkhianati komitmen begitu?

Dan seharusnya, apapun keputusan yang diambil kawan-kawanku, harus kuhormati bukan?

Seringkali, aku merasa kesensitifitasanku terhadap sesuatu menjadi sebuah kutukan. Melihat raut muram seorang kawan, atau mendengar helaan nafasnya yang berat, atau memandang tatapan kosongnya membuatku merasa harus berbuat sesuatu untuk berbagi beban berat apapun itu. Tentu aku tidak menyesalinya, hanya saja kadang aku menjadi berpikir apakah yang kulakukan tepat, apakah aku berhak untuk menjadi orang yang mendengarkan rahasia-rahasianya. Aku juga sering bertanya apakah niatku murni tulus ingin membuat perasaannya menjadi lebih baik atau jangan-jangan aku hanya kepo dan ingin terlihat baik?

Tetapi, aku berharap bahwa common sense yang kulakukan ini tidak dibajak setan, tidak dibajak rasa-rasa palsu tanpa ketulusan. Semoga. Dan siapapun yang pernah berkisah tentang hidupnya padaku, kuharap mereka menemukan ketulusanku yang membuatnya menjadi lebih kuat. Ya, hidup ini berat, tetapi semoga kita kuat bukan?


Depok, 12 Desember 2019


Monday, December 9, 2019

Budaya Sebagai Teks*

December 09, 2019 0 Comments
Gambar dari ACCS2019

Beberapa tahun terakhir, pendekatan-pendekatan analisis budaya berangkat dari etnologi atau antropologi budaya. Konsep budaya sebagai teks itu terus berkembang sebab kehidupan sosial dilihat melalui tanda dan simbol, juga representasi dan interpretasi. Dari konsep ini dipahami bahwa budaya sebagai teks mencakup sekumpulan teks dan struktur semiotik simbol yang bisa dibaca dalam bentuk ekspresi dan representasi budaya. Pandangan ini berpengaruh pada kajian social, sastra, dan tekstual. Budaya sebagai teks menjadi jembatan penting antara antropologi budaya dan kajian sastra. Awalnya konsep ini berhubungan erat dengan riset etnografi dan kerangka berpikir semiotik dalam pemaknaan antropologi budaya. Ia berkembang dari sekadar metafora konseptual menjadi analisis di dalam kajian-kajian tentang budaya. Perubahan antropologis ini memunculkan perdebatan mengenai fokus baru dalam kajian tentang budaya dalam berbagai disiplin ilmu, misalnya kajian sastra menjadi kajian budaya (cultural studies), juga berbagai pandangan baru dalam praktek penelitian seperti kajian pertunjukkan, kajian ruang, post-colonial dan lain-lain. 


Konsep ini menjadi dasar perubahan misalnya dalam etnologi yang awalnya terbatas pada ruang tertentu menjadi antropologi budaya yang lebih sistematis, metodologis, dan teoritis. Pun dalam kajian budaya yang awalnya dari kajian wilayah menjadi filologi nasional ke kajian perbandingan sastra interkultural, ke sastra dunia. Metode untuk mengungkap kesalingmempengaruhi antara teks sastra, bentuk ekspresi dan hubungan budaya adalah kontekstualitas. Sehingga bisa diketahui bahwa teks sastra terlibat dalam bentuk representasi budaya yang lebih luas, melampaui batas tekstual. Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa budaya sebagai struktur makna dimana setiap perilaku diterjemahkan ke dalam tanda. Memaknai “budaya sebagai teks” adalah membangun upaya pembacaan terhadap apa yang terjadi, tidak serta merta mengambil “budaya” sebagai metafora dari pembacaan yang terlepas dari praktek budaya yang sebenarnya. 

Teks harusnya dibaca sebagai “pertunjukan budaya” yang tidak semata merepresentasikan realitas tetapi juga membentuk realitas. Kajian sastra juga tidak semata merepresentasikan teks budaya tetapi juga memiliki nilai estetik intrinsik, struktur dan pola representasi yang artistik juga. Pemaparan dan analisis budaya juga perlu terbuka pada perbedaan dan kemajemukan. Persinggungan antar budaya dan pengalaman serta hubungan yang disebabkan oleh migrasi dan diaspora. Sehingga konsep budaya sebagai teks berkembang atau bahkan tergantikan oleh konsep budaya yang dinamis dan non-holistik: ide bahwa budaya sebagai proses penerjemahan dan negosiasi (yang mengakui adanya perbedaan dan relasi kuasa yang tidak setara, sehingga tidak bisa dengan mudah dianggap sebagai konsep yang berubah). Sehingga hubungan antara teks dan makna ditinjau ulang dengan lebih kompleks: dengan terlibat dalam relasi kuasa, dalam proses negosisasi makna dalam persinggungan interkultural, dan dalam proses hibridisasi melalui transnasionalisasi dan globalisasi. Sastra, kajian sastra, dan kajian tentang budaya terus mengalami perubahan ke dalam bidang-bidang riset yang baru setelah adanya kebangkitan transnasional dan globalisasi. Perubahannya tidak hanya menekankan pada pemahaman bahwa budaya dan teks yang meliputi hal-hal metarial, teateritikal, ritual, representasi, dan praktek-praktek sosial. 

Kesimpulan dari pembacaan saya terhadap teks “Culture as Text” tulisan Doris Bachmann-Medick adalah bahwa kebudayaan ada dalam masyarakat sebagai sesuatu yang harus dibaca dan ditafsirkan. Kebudayaan juga merupakan teks lintas disiplin ilmu dan bersifat inklusif. Salah satu tulisan Von Christian Hock tentang topik serupa juga memaparkan tentang budaya sebagai teks dan teks sebagai budaya yang pembedanya terletak pada ruang, dalam kaitannya antara budaya dan ruang, dan dengan relasi antara tulisan dengan ruang, dan antara budaya dan tulisan. Dan dalam tulisan Hock ini lebih detail menjelaskan tentang perbedaan-perbedaan dua konsep tersebut.




*Laporan bacaan atas "Culture as Text" Doris Bachmann-Medick untuk tugas mata kuliah Teori Kebudayaan yang diampu oleh Dr. Suma Riella Rusdiarti 


Sunday, December 1, 2019

Sejarah Center For Contemporary Cultural Studies

December 01, 2019 0 Comments
Beberapa waktu yang lalu, di salah satu kelas Pemetaan Cultural Studies, dosen kami Gietty Tambunan, PhD memberikan tugas pada semua mahasiswa untuk membuat infografis yang bisa menjelaskan sejarah kemunculan Cultural Studies dari Center for Contemporary Cultural Studies. Berikut adalah infografis yang saya buat untuk memenuhi tugas tersebut dan memperoleh nilai 90 dari Bu Gietty. Semoga infografis ini bisa bermanfaat buat teman-teman yang ingin mengetahui sejarah kemunculan Cultural Studies dan beberapa tokoh-tokohnya. 



Tuesday, November 26, 2019

Cultural Identity and Diaspora – Stuart Hall*

November 26, 2019 0 Comments
Gambar dari Centre for Research in Cultural Studies

Hall merumuskan identitas budaya melalui definisi identitas sebagai sebuah ‘produk’ yang tidak pernah selesai, selalu berproses, dan selalu menjadi bagian di dalam representasi. Artikulasi representasi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks diposisikan (being positioned) atau memposisikan (positioning). Diaspora sebagai model untuk membicarakan identitas budaya berawal dari festival film Karibia yang membuat Hall mempertanyakan identitas orang kulit hitam dalam film tersebut, siapa subjek yang muncul di layar itu dan dari mana ia berbicara. Diaspora menjadi model untuk membicarakan identitas budaya karena pengalaman diaspora didefinisikan tidak semata melalui esensinya tetapi juga dalam pengakuan heteroginitas dan keanekaragaman (konsep identitas yang hidup dalam dan melalui perbedaan; yaitu melalui hibriditas). Identitas diaspora ini sendiri terus bereproduksi melalui transformasi dan perbedaan. 


Hall mengungkapkan bahwa ada setidaknya dua cara berbeda dalam merumuskan identitas budaya. Yang pertama, identitas budaya diterjemahkan ke dalam satu identitas yang dimiliki secara kolektif dan biasanya dimiliki oleh sekelompok orang dari latar belakang sejarah dan nenek moyang yang sama karena adanya kepentingan untuk menyatukan masyarakat dalam satu kesatuan atau ‘oneness’. Hall mencontohkan orang-orang kulit hitam Karibia dan bagaimana diaspora kulit hitam ditemukan, dieksakavasi, dan diekspresikan melalui representasi sinematik. Konsepsi ini memainkan peran penting di semua perjuangan post-kolonial yang membentuk kembali dunia kita. Contohnya adalah puisi-puisi ‘negritude’ yang merepresentasikan masyarakat-masyarakat Afrika yang marjinal dan foto Francis ‘The Black Triangle’ yang menunjukkan bahwa identitas budaya orang kulit hitam diaspora berakar dari Afrika. 

Cara kedua dalam merumuskan identitas budaya adalah menerjemahkannya sebagai ‘proses menjadi’ sekaligus ‘proses mengada’. Identitas ini adalah bagian dari masa depan sekaligus masa lalu, bukan sesuatu yang sudah ada, tetapi melampaui tempat, waktu, sejarah dan budaya. Karena adanya intervensi sejarah, pertanyaan ‘siapa sesungguhnya kita’ berubah menjadi ‘telah menjadi siapa kita’. Di sini Hall menjelaskan identitas budaya sebagai suatu penempatan (positioning), bukan esensi; bagaimana menempatkan diri dalam narasi masa lalu, dan bagaimana narasi masa lalu memposisikan diri. Hall mencontohkan identitas kulit hitam Karibia yang merupakan hasil dialogis antara kontinuitas masa lalu dan diskontinuitas pengalaman: bagaimana orang kulit hitam Afrika ditarik ke dalam perbudakan, transportasi, penjajahan, migrasi dari Afrika. 

Penjelasan Hall mengenai identitas budaya dan diaspora sangat membantu dalam memahami fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita, bahwa identitas budaya datang dari suatu tempat, memiliki sejarah, namun tidak selalu tetap melainkan cair dan terus berkembang. Dalam penelitian saya mengenai kampanye pernikahan muda di sosial media instagram, melihat pandangan Hall, saya menyadari bahwa identitas-identitas dari subjek yang saya teliti tidak tunggal namun sangat cair, dan bagaimana para pengkampanye atau pendukung kampanye tersebut membentuk identitas budaya mereka masing-masing meskipun sama-sama orang Indonesia dan beragama Islam.


*Tulisan ini merangkum bacaan Cultural Identity and Diaspora Stuart Hall yang menjadi salah satu tugas Pemetaan Cultural Studies yang diampu Prof. Melani Budianta.

Friday, November 8, 2019

Menegosiasikan Motherhood: Antara Pariyem dan Nyai Ontosoroh*

November 08, 2019 0 Comments
Ilustrasi diambil dari http://babiekinsmag.com/momkins-art-motherhood-brooke-smart/

Peran motherhood dalam masyarakat Indonesia, Jawa khususnya, menempatkan pengasuhan anak dari kecil sampai menjelang dewasa dengan dibebankan kepada sosok ibu sehingga memungkinkan ketidak-terpisahan antara anak dan ibunya. Meskipun dalam konteks jaman yang terus berubah, banyak pasangan mulai mendialektikakan peran motherhood ini antara perempuan sebagai ibu dan laki-laki sebagai ayah. Cerita tentang motherhood ini juga muncul menjadi isu serta diskursus dalam kisah-kisah fiksi yang bisa diinterpretasi dengan pemaknaan yang beragam.

Dalam esai ini akan dibahas bagaimana motherhood dikonstruksi dalam teks dan dinegosiasikan oleh tokoh Pariyem dalam prosa liris Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Parmoedya Ananta Toer. Metode kualitatif dengan pendekatan post-strukturalisme digunakan dalam upaya memahami teks dengan membacanya secara tidak tekstual semata, melainkan berupaya menyingkap makna di baliknya (Barry, 2002: 77). Untuk memahami motherhood dalam hubungannya dengan kuasa patriarki, kritik feminisme juga akan sedikit digunakan dalam tulisan ini.

Novel Pengakuan Pariyem, berlatar tahun 1970-an pada masa Sultan Hamengkubuwono IX, mengisahkan seorang permpuan bernama Pariyem yang menuturkan kembali kisah hidupnya dengan sudut pandang aku dan ditujukkan kepada seseorang bernama Mas Paiman. Diceritakan bahwa Pariyem yang berasal dari Wonosari, Gunung Kidul bekerja sebagai babu di keluarga Ndoro Kanjeng Cokro Sentono, ndalem Suryo Mentaraman, Yogyakarta. Di sana, ia hamil setelah melakukan hubungan seksual bersama anak Ndoro Kanjeng, Den Bagus Ario. Menanggapi kehamilan yang menyangkut anak lelakinya itu, Ndoro Kanjeng memutuskan bahwa permasalahan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan; Pariyem diantar pulang ke Wonosari sampai melahirkan anaknya lalu diminta kembali lagi ke Yogyakarta untuk bekerja seperti biasa. Sementara anak yang lahir diakui sebagai anak Den Bagus Ario serta bagian keluarga Cokro Sentono meskipun tanpa pernikahan. 

Sementara novel Bumi Manusia berlatar di masa kolonial, sekitar akhir 1800-an dan awal 1900-an di masa diberlakukannya politik etis, mengisahkan seorang anak bupati dan siswa HBS bernama Minke yang menuturkan kisah hidupnya serta pertemuannya dengan keluarga Mellema yang mengubah pandangan hidupnya tentang banyak hal, termasuk tentang ilmu pengetahuan dan Barat. Diceritakan bagaimana kisah keluarga Mellema, terutama sosok Nyai Ontosoroh, gundik Herman Mellema yang dikaguminya, dan bagaimana hubungan asmaranya bersama Annelies Mellema. Setelah meninggalnya Herman Mellema, Nyai Ontosoroh terpaksa berpisah dengan anaknya dan terancam kehilangan aset-aset perusahaan yang dikelolanya karena kalah di pengadilan kolonial meskipun sudah berupaya melawan bersama Minke tak hanya secara hukum di pengadilan tetapi juga melalui tulisan-tulisan Minke di surat kabar.

Dalam cerita Pariyem, peran motherhood yang dilakukan Pariyem berbeda dari apa yang dilakukan oleh ibunya, Parjinah. Kedua orang tua Pariyem yang awalnya seniman, setelah geger G-30-S/PKI kehilangan pekerjaannya karena kegiatan kesenian kethoprak dan ledhek menjadi punah. Mereka kemudian tinggal di Wonosari, Gunung Kidul menjadi petani, “bercocok tanam di ladang” (AG, 2017: 28) dan di sanalah Parjinah mengasuh Pariyem serta kedua adiknya di tengah aktivitas bertani dan berjualan ke pasar. 

Sementara Pariyem, ia melakukan urbanisasi dengan bekerja ke kota, meninggalkan Wonosari karena motif ekonomi. Sebagai petani, orang tuanya tidak memiliki lahan sebab mereka “menggarap bengkok pak Sosial” yang luasnya “hanya tiga petak kecil-kecil” (AG, 2017: 4). Di sana, Pariyem tidak memiliki jatah pekerjaan yang memberdayakan secara ekonomi sebab lahan yang digarap juga tidak terlalu luas dan perannya tidak terlalu dibutuhkan, sehingga bekerja ke kota menjadi satu-satunya solusi ekonomi untuk membantu perekonomian keluarganya yang “melarat” (AG, 2017: 4). 

Di kota, Pariyem hamil dengan anak majikannya, Den Bagus Ario, seorang mahasiswa filsafat yang tergila-gila kepada kecantikan Pariyem. Keputusan keluarga Cokro Sentono untuk memulangkan Pariyem sampai melahirkan lalu kembali lagi bekerja di Ndalem Suryo Mentaraman membuat Pariyem meninggalkan anaknya untuk tinggal bersama keluarga Pariyem di Wonosari (AG, 2017: 239). Tentu saja keputuskan meninggalkan anak ini bukanlah kemauan Pariyem sebab penggambaran Pariyem sendiri tentang motherhood justru “tak siang tak malam tak pagi tak petang/ selalu ibu yang menggula-wenthah anaknya… digendongnya ke mana pun pergi (AG, 2017: 211-212) yang menunjukkan keinginannya untuk selalu bersama dengan anaknya.

Yang menentukan berpisahnya Pariyem dengan sang anak adalah Ndoro Kanjeng. Saat mengetahui kehamilan Pariyem, ia berkata “Pekerjaanmu tak berubah, sebagai biasa/ hanya selama setahun tinggal di dusun… Kowe bertugas merawat diri dan si thuyul/ sedang semua kebutuhan nanti tersedia.” (AG, 2017: 201-202). Meskipun sebulan sekali Pariyem menengok anaknya, perkataan Pariyem “Demi anak segala rintangan saya tempuh/ mati pisan saya lakoni… saya pun kini mondar-mandir… antara kota Ngayogya dan dusun Wonosari” (AG, 2017: 240) menunjukkan bahwa sebenarnya ia ingin selalu bersama dengan anaknya. Menurut kritik feminis, ruang domestik dalam hal aktivitas reproduksi menjadi akar subordinasi terhadap perempuan. Tetapi peran reproduksi ini dikontestasikan dan dinegosiasikan sebagai respon terhadap apa yang terjadi di luar ruang domestik (Hayami, 1998). Dan dengan pulang-pergi sebulan sekali dari Yogyakarta ke Wonosari itu, Pariyem menegosiasikan peran motherhood-nya.

Berbeda dengan Pariyem, Nyai Ontosoroh sebagai gundik Tuan Mellema bisa tinggal bersama dengan anak-anaknya sejak usia mereka masih dini, mengasuhnya sembari mengurus perusahaan Mellema. Tetapi begitu Herman Mellema meninggal dan Robert Mellema, anak lelaki Nyai Ontosoroh tidak bisa ditemukan, hak kepengasuhan terhadap Annelies Mellema yang menurut hukum kolonial masih di bawah umur pun terlepas dari tangan Nyai Ontosoroh.

Hukum kolonial memang tidak pernah mengakui Robert dan Annelies sebagai anak Nyai Ontosoroh sebagaimana diungkapkannya “hukum tidak mengakui keibuanku, hanya karena aku pribumi dan tidak dikawin secara syah” (Toer, 2005: 112). Meski demikian, kedua anak Nyai Ontosoroh diakui sebagai anak Herman Mellema sehingga ketika sang ayah meninggal, hak kepengasuhan tersebut jatuh ke tangan Maurits Mellema, kakak tiri Annelies.

Berpisahnya Nyai Ontosoroh dengan Annelies juga bukan keinginan Nyai, meskipun pledoinya “Dia anakku… hanya aku yang berhak atas dirinya” (Toer, 2005: 488) itu tidak berarti di mata hukum kolonial. Meskipun menyadari bahwa posisinya lemah di depan hukum kolonial tidak mengurungkan tekad Nyai Ontosoroh untuk mempertahankan anaknya seperti yang ia ungkapkan: “Aku akan berkelahi untuk harga diri anakku. Ibuku dulu tak mampu mempertahankan aku, maka dia tak patut jadi ibuku” (Toer, 2005: 128). Sehingga bersama Minke yang menjadi suami Annelies, Nyai Ontosoroh berjuang melawan peradilan kolonial meskipun kalah. Di sinilah Nyai Ontosoroh menegosiasikan peran motherhood-nya.

Pariyem dan Nyai Ontosoroh sama-sama perempuan yang tidak dinikahi oleh pasangannya namun sama-sama memiliki anak dari hubungan di luar pernikahan tersebut. Dalam konteks masyarakat kolonial, identitas Nyai Ontosoroh sebagai gundik Tuan Mellema sekaligus perempuan pribumi, membuatnya berada dalam posisi yang selalu dikalahkan ketika berhadapan dengan hukum kolonial yang pada akhirnya merenggut dan memisahkan Annelies dari sisinya. Hukum kolonial yang memungkinkan terjadinya perbudakan dalam bentuk ‘nyai’ dan tidak mengakui keibuan seseorang terhadap anak indo-nya ini menjadi sebuah sistem patriarkal yang mensubordinasi Nyai Ontosoroh. 

Dalam konteks masyarakat feodal, identitas Pariyem sebagai seorang babu, golongan rakyat biasa dan bukan bangsawan, menempatkannya pada posisi yang tidak bisa menawar sabda Ndoro Kanjeng. Ada alasan kenapa Pariyem diminta untuk pulang, melahirkan anaknya, lalu kembali bekerja tanpa membawa serta anaknya ke Yogyakarta. Tentu saja sebab Endang, anak Pariyem bersama Den Bagus, adalah anak di luar pernikahan yang keberadaannya bisa mengancam wibawa kekuarga Cokro Sentono.

Menurut Rich (1996:42) pengalaman motherhood dan seksualitas pada perempuan hampir selalu ‘dipaksa menyerah’ pada kepentingan atau keinginan patriarki. Pariyem yang meninggalkan anaknya demi kepentingan Ndoro Kanjeng Cokro Sentono untuk menjaga wibawa keluarganya, Nyai Ontosoroh yang terpaksa berpisah dengan anaknya demi kepentingan Maurits Mellema lewat hukum kolonial. Latar belakang dan konteks masa kejadian dua teks ini berbeda tapi posisi perempuan sebagai ibu hampir sama. Keduanya bukan istri sah, tidak diikat perkawinan sah, dan yang berkuasa membuat keputusan tentang anaknya (peran motherhood) sama-sama keluarga laki-laki. 


Daftar Pustaka:

AG, Linus Suryadi. 2017. Pengakuan Pariyem. Jakarta: KPG.
Barry, Peter. 2002. Beginning Theory. Yogyakarta: Jalasutra.
Hayami, Y. 1998. Motherhood Redefined: Women's Choices on Family Rituals and Reproduction in the Peripheries of Thailand. Sojourn: Journal of Social Issues in Southeast Asia, 242-243. Diakses di https://www.jstor.org/stable/41056989 pada 12 Oktober 2019.
Rich, Adrienne. 1996. Of Woman Born, Motherhood as Experience and Institution. New York: W. W. Norton & Company.
Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.

*Tulisan ini merupakan tugas yang diajukan dalam mata kuliah Teori Sastra yang diampu oleh Dr. Tommy Christomy 

Wednesday, November 6, 2019

Asia as Method: Toward Deimperialization, Kuan Hsing Chen*

November 06, 2019 0 Comments

Buku Asia as Method tulisan dari Kuan Hsing Chen ini menawarkan sebuah kerangka kerja analisis berbasis materialisme geokolonial historis untuk mengembangkan pemahaman baru terhadap kajian budaya di negara terjajah khususnya wilayah regional Asia dalam upayanya untuk memahami bentuk, praktek, dan institusi budaya populer dengan lebih baik. Penulis juga mengkritik kajian budaya postkolonialis yang dianggap mandeg sebab adanya kritik berlebihan terhadap Barat serta berusaha menempatkan sejarah kolonialisme dan imperialisme kembali dalam kajian globalisasi. Hal lain yang dibahas adalah mengenai bidang kajian Asia, yang selama ini didominasi oleh kajian-kajian yang dilakukan di luar ruang geografis Asia. 

Di sinilah potensi ‘Asia sebagai Metode’, bahwa kajian kritis terhadap pengalaman-pengalaman di Asia menawarkan sebuah paradigma baru dalam memandang sejarah dunia dan juga dalam mengajukan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang berbeda. Selama ini, para intelektual berpandangan subjektif mengkritik pandangan objektif yang menempatkan Barat sebagai pusat dan selain Barat sebagai pinggiran (periferi) sehingga ‘Asia sebagai Metode’ berupaya untuk mengatasi perdebatan ini dengan berupaya menempatkan Asia sebagai pusat. 

Mundurnya upaya deimperialisasi yang menjadi faktor pendukung terjadinya konflik lokal, regional, dan global di seluruh dunia berhubungan dengan kondisi terkini produksi pengetahuan. Perspektif ‘Asia sebagai Metode’ muncul di persimpangan antara kritik postkolonialisme, kajian globalisasi, dan Kajian Asia di Asia sebagai metode yang menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kerja intelektual dan menjawab masalah produksi pengetahuan tersebut. Ia berupaya mentransformasikan struktur pengetahuan yang sudah ada sekaligus mentransformasikan diri kita. Implikasinya adalah menggunakan Asia sebagai ‘imaginary anchoring point’ yang memungkinkan masyarakat di Asia menjadi titik rujukan masing-masing sehingga pemahaman pada diri bisa ditransformasi dan subjektifitas bisa dibangun ulang. Pengalaman-pengalaman dan praktek historis di Asia bisa dikembangkan sebagai cakrawala, pandangan, atau metode alternatif untuk memunculkan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang berbeda tentang sejarah dunia. Dengan menggunakan perspektif ‘Asia sebagai Metode’, masyarakat di Asia bisa saling terinspirasi bagaimana masyarakat di negara-negara Asia yang lain menyelesaikan masalah-masalah serupa. 

Sebagai persoalan teoritis, ‘Asia sebagai Metode’ merupakan hasil dari praktek-praktek yang berkembang dari Inter-Asia Cultural Studies, sebuah jurnal pergerakan yang berjalan sejak 1990an dan dianggap sebagai gerakan ‘self-reflexive’. Metode ini juga mengkritisi diskusi paradigma dikotomi: Timur versus Barat, Cina versus Barat, Korea Selatan versus Barat, Jepang versus Barat, India versus Barat yang menunjukkan bahwa selama ini subjek wacana nasionalis selalu Barat dengan menawarkan empat strategi sebagai berikut: 

Pertama, melakukan disrupsi ‘the Other’ melalui dekonstruksi, bahwa Barat tidak bisa menjadi ‘our Other’. Kedua, membatasi bahwa pengalaman Barat hanya di satu bagian dunia saja, sehingga meskipun berpengaruh dan menjadi bagian sumber kultural di Asia namun sebagai bagian lain dari dunia serta sebuah produk sejarah, ia tidak bisa mengklaim universalitas. Strategi ketiga dari Ashis Nandy yang mengungkapkan bahwa hal-hal yang kelihatannya berasal dari Barat sebenarnya sudah ada menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat non-Barat, dalam hal ini India. Strategi keempat yaitu nativisme dunia ketiga melalui internasionalisasi lokalitas. Persoalan sosial budaya di Asia diungkapkan melalui fenomena lokal dan dikenalkan ke dunia internasional. 

Strategi tersebut sejalan dengan pandangan Partha Chatterje yang mengungkapkan bahwa fenomena yang terjadi di India memiliki kesamaan dengan apa yang terjadi di Taiwan. Tentu saja fenomena itu terjadi di tempat lain secara global, tetapi dengan memahami struktur lokasi, proses modernisasi, serta pengalaman-pengalaman historis yang serupa di Asia Dunia Ketiga memungkinkan fenomena-fenomena ini bisa ‘terlihat’. Sehingga kajian komparatif perlu dilakukan. Hal ini pernah dilakukan sebelumnya, tetapi dengan membandingkan teori Eropa-Amerika dengan pengalaman lokal kita yang tidak begitu membantu upaya kita dalam memahami kondisi dan praktek di masyarakat Asia. Perbandingan sesama negara Asia justru lebih membantu dibandingkan dengan perbandingan antara Barat dan fenomena lokal kita. Chatterje juga mengungkapkan bahwa masyarakat politis adalah kekuatan perubahan sosial di ruang postkolonial. 

Penulis juga meminjam pandangan-pandangan Mizoguchi tentang ‘Cina sebagai Metode’ untuk melihat fenomena-fenomena di Jepang melalui Cina. Namun ada perbedaan ‘Cina sebagai Metode’ dengan ‘Asia sebagai Metode’ yang terletak pada pilihan-pilihan penekanannya. Pertama, objek dialog ‘Asia sebagai Metode’ adalah lokal (Seoul, Tokyo, Shanghai, atau Taipei misalnya) tetapi juga lintas-batas, regional, dan bahkan interkontinental. Kedua, pandangan ini mengakui elemen-elemen Barat sudah ada secara internal di Asia. Ketiga, pandangan ini membuat perubahan pada Asia, dari Asia Timur ke bagian lain Asia, dengan harapan pandangan dunia kita akan meliputi cakrawala yang beragam ini. Keempat, pandangan ini secara sadar menekankan pada praktek-praktek yang dalam upaya menyibak modernitas, pikiran intelektual hanya satu saja dari praktek historis lainnya. Terakhir, inti agenda teoritis dan politis ‘Asia sebagai Metode’ adalah untuk mentransformasi subjektifitas kita.

*Tulisan ini adalah laporan bacaan buku 'Asia as Method: Toward Deimperialization' karya Kuan Hsing Chen sebagai tugas mata kuliah Pemetaan Cultural Studies yang diampu Prof. Melani Budianta dan mendapatkan predikat laporan bacaan terbaik dengan nilai tertinggi di kelas.

Wednesday, September 25, 2019

Menafsir 'Ayam'; Melacak Genealogi, Membaca Ulang Ingatan*

September 25, 2019 0 Comments

Dalam salah satu perkuliahan Pemetaan Cultural Studies, dosen kami meminta mahasiswa untuk menggambar ayam. Setelah gambar-gambar itu dikumpulkan dan diperlihatkan kembali, tampaklah kecenderungan yang nyaris sama di semua gambar: ayam itu menghadap ke kiri. Kenyataan tersebut membuat para mahasiswa tersentak dan mulai bertanya-tanya. Pada awalnya kita tidak menyadari sejak kapan konsep gambar ayam menghadap ke kiri itu terbentuk dalam benak kita. Kita tidak ingat siapa yang mengajarkan kita cara menggambar dan mengapa kita menggambar seperti itu. Begitu terbiasanya kita dengan hal ini sehingga luput mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari mana gambar ayam menghadap kiri itu berasal. 

Sebagai sebuah produk budaya, gambar menjadi teks visual yang dapat dianalisis dan ditafsirkan. Ia berkomunikasi melalui tanda yang memiliki beragam arti. Menurut teori semiotik Peirce, tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain, dimana proses pemaknaannya mengaitkan antara ‘realitas’ dan ‘apa yang ada dalam kognisi manusia’ (Hoed, 2014: 9). Asumsi dasarnya, gambar ayam yang hampir seluruhnya menghadap ke kiri itu berusaha mengungkapkan hal lain, seperti fenomena kekuasaan apakah yang mendasari ketidaksadaran masyarakat dalam menggambar seperti itu.

Konsep sintagmatik-paradigmatik dalam semiotik berusaha mencari oposisi-oposisi yang tersembunyi dan bagaimana urutan suatu teks menghasilkan makna (Ida, 2014: 30). Dengan konsep ini, dapat dilihat bagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya melihat sesuatu dengan paradigma kiri ke kanan, atas ke bawah. Paradigma ini terlihat dari cara membaca dan menulis orang Indonesia. Kebiasaan lainnya seperti berjalan harus di sebelah kiri sebab menyetir dilakukan dari sebelah kanan juga membentuk paradigma yang dominan kiri. Beberapa data tambahan yang diperoleh dari gambar-gambar ayam dari responden lain menunjukkan bahwa kecenderungan gambar menengok ke kanan sangat sedikit, salah satu diantara penggambar ayam menghadap ke kanan itu karena ia kidal. Beberapa responden mengakui bahwa menggambar ayam yang menghadap ke kiri lebih mudah karena menggunakan tangan kanan. Sementara penggambar kidal mengakui bahwa menggambar ayam menghadap ke kanan cenderung lebih mudah karena menggunakan tangan kiri.

Kebiasaan menggunakan tangan kanan ini bahkan dikukuhkan dalam dalil-dalil agama yang menyitir hadits nabi bahwa tangan kanan itu lebih baik disbanding tangan kiri. Juga dalam pendidikan, bahwa menggunakan tangan kanan selalu lebih sopan. Secara kultur agama dan pendidikan, masyarakat Indonesia nyaris sepakat untuk menolak dominansi penggunaan tangan kiri/kidal. Struktur paradigmatik kiri-kanan dalam menulis dan membaca, serta keharusan untuk selalu berjalan di sebelah kiri juga dilanggengkan melalui konsep pendidikan. Di sini terlihat bagaimana aparatus negara ideologis (Althusser, 2008: 18-22) seperti agama dan pendidikan melakukan hegemoni.

Hegemoni pendidikan yang dilakukan selama bertahun-tahun berhasil membentuk memori kolektif masyarakat yang membentuk nyaris seragamnya gambar ayam mereka. Dalam istilah Gramsci, hegemoni budaya ini memungkinkan seseorang untuk berpandangan sesuai yang diinginkan oleh kekuasaan secara suka rela tanpa paksaan (Lears, 1985). Tentu saja kekuasaan ini bisa apa saja, bisa pendidikan, bisa Negara. Pendapat tentang memori kolektif sendiri berakar dari pemikiran Durkheim dan Halbwahs yang kemudian Olick menjelaskan salah satu konsep memori kolektif dimana kita memandang ingatan sebagai residu otentik tentang masa lalu (Olick, 1999). Ini menjelaskan perbedaan yang cukup mencolok antara gambaran ayam yang digambar oleh orang dewasa dan anak-anak. Orang-orang dewasa memiliki ingatan kolektif hasil hegemoni pendidikan selama bertahun-tahun sejak masa lalu yang diwariskan dari orang tua-orang tua dan guru-guru mereka, sementara anak-anak tidak atau belum.

Data tambahan yang diperoleh dari anak-anak yang belum sekolah atau baru memasuki tahap sekolah dasar menampakkan perbedaan hasil cukup signifikan. Beberapa responden anak-anak yang diminta untuk menggambarkan ayam memperlihatkan gambar yang tidak dominan menghadap ke kiri, tetapi ke depan juga ke kanan. Sangat jarang didapati anak menggambar ayam menghadap ke kiri. Berkebalikan dengan hasil gambar yang diterima dari responden orang dewasa.








Ini disebabkan juga barangkali oleh masih singkatnya pendidikan yang diperoleh anak-anak sehingga konsep-konsep paradigmatik kiri-kanan, menulis-membaca dari kiri, berjalan selalu di sebelah kiri, belum betul-betul tertanam dalam ingatan anak-anak.

Ada satu data yang cukup menarik dari responden anak berusia 3.5 tahun (perempuan). Awalnya ia menggambar ayam menghadap ke kiri, ketika ditanya apa dia diajari menggambar seperti itu, ibunya (30 tahun) mengaku bahwa sang ibu memberi contoh terlebih dahulu dengan menggambar ayam menghadap kiri. Ketika anak tersebut diminta kembali untuk menggambar ayam sesuka hatinya, hasilnya ternyata menghadap ke kanan. Bahkan gambar yang sebelah kanan terlihat lebih natural dibanding yang di sebelah kiri.



(Gambar kiri dengan arahan ibunya, gambar kanan sesuai kebebasan anak) 

Dari analisis-analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa gambar ayam menghadap ke kiri dominan terjadi pada orang-orang yang sudah dewasa dan mengenyam pendidikan selama bertahun-tahun, sementara untuk anak-anak kecil yang belum sekolah atau baru memasuki tahapan sekolah dasar, gambar ayamnya lebih variatif. Jika ditelusuri kembali, penggambaran yang dominan menghadap ke kiri berawal dari masa sekolah dan berlangsung terus menerus selama bertahun-tahun sebagai imbas dari hegemoni kekuasaan Negara dalam bidang pendidikan, yang tujuan utamanya menciptakan masyarakat yang seragam; seragam dalam menulis dengan tangan kanan, seragam berjalan di sisi sebelah kiri, hingga akhirnya seragam dalam menggambar hewan ayam menghadap ke kiri secara tidak sadar dan tidak lagi mempertanyakan karena itu dianggap sebagai sebuah kelaziman belaka.



Daftar Pustaka

Althusser, Louis. 2008. Tentang Ideologi: Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies.Yogyakarta: Jalasutra
Hoed, Benny H. 2014. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.
Ida, Rachmah. 2014. Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Kencana.
Lears, T. J. Jackson. 1985. The Concept of Cultural Hegemony: Problems and Possibilities. The American Historical Review, Vol. 90, No. 3 (Jun., 1985), pp. 567-593. (diakses di http://www.jstor.org/stable/1860957 pada 23 September 2019)
Olick, Jeffrey K. 1999. The Two Cultures. Sociological Theory, Vol. 17, No. 3 (Nov., 1999), pp. 333-348 (diakses di https://www.jstor.org/stable/370189 pada 23 September 2019)


*Tulisan ini dibuat untuk tugas kelas Pemetaan Cultural Studies yang diampu oleh Dr. Risa Permanadeli.